Postingan

Saat Adzan Berkumandang

Oleh: Sri Eka Warnita Meuraxa Saat adzan berkumandang Mata menyipit Tangan menari-nari Imaji melayang bagai kapas Tubuh tergeletak telanjang dada Hati merayu meminta kau melangkah mensucikan diri; berwudhu Kau tetap sibuk memainkan ponsel

Tak Perlu Diungkap

Oleh: Sri Eka Warnita Meuraxa Semakin hari Aku mendapati namamu dalam berkas-berkas puisiku Tentang harapan yang tertunda Sebab bibir tak mampu mengungkap Tentang mimpi Saat kita satu tujuan Dan tentang malam kelabu Saat kita belum menginginkan pagi

Rindu yang Salah

Karya: Sri Eka Warnita Meuraxa Langit yang cerah menumbuhkan benih-benih rindu. Rindu selalu mengajarkan untuk bersabar. Meski ruang qalbu semakin menyesakkan dada. Aku rindù kamu Kamu rindu dia Dia rindu dia Begitu seterusnya Rindu yang  kesasar

Secangkir Rindu

Karya: Sri Eka Warnita Meuraxa Adakah setitik rindu untukku Setelah kusuguhi kau secangkir rindu Dari serpihan cinta dan kasih sayangku Setetes Aku hanya meminta setetes Untuk membasahi hati nan gersang sebab merinduimu yang tak bertepi

Masih Tentangmu

Karya: Sri Eka Warnita Meuraxa Masih saja kusimpan kenangan tentangmu Saat jingganya merona menghiasi wajahku Kau sering terkenang di memoriku Bercerita Bercanda Kita tertawa bersama menikmati sisa-sisa malam nan kian menjauh Kau tahu, sayang 

Pulau Kelapa

Karya: Sri Eka Warnita Meuraxa Di perutmu hidup berbagai ragam makhluk berkisar 10.187.595  jiwa Di perutmu terbangun kokoh kantor-kantor diplomatik perwakilan negara-negara Kantor sekretariat ASEAN Kau kujuluki Pulau Kelapa Pulau Kelapa Ibukota Jakarta-ku Di tubuhmu dibangun 1001 mimpi anak negri Di tubuhmu pula berdiri milyaran juta jiwa

Bakat dan Kerja Keras

Penulis: Sri Eka Warnita Meuraxa Semua orang pasti memiliki bakat  yang berbeda-beda. Ada yang berbakat menjadi seorang dokter, pemain tinju, ustad, guru,  sastrawan, seniman, dan seterusnya. Namun, terkadang kita sendiri berpikir, "Saya punya bakat menjadi seorang penulis. Suatu saat nanti saya akan menjadi penulis bets seller ."